Minggu, 13 Maret 2016

Retorika sebagai ilmu dan Retorika sebagai ilmu bahasa

Haii Sobat Miner, salam tambang ya...
ingat yah di dunia tambang bukan hanya sekedar ilmu terapan ilmu tambang saja materi-materi seperti retorika juga perlu yah sedikit banyaknya dalam berinteraksi du dunia kerja nantinya.. yuk simak berikut kulit-kulitnya materi retorika..
 
Retorika Sebagai Ilmu
Dalam KBBI disebutkan bahwa retorika  diartikan sebagai (1) studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang mengarang, dan (2) seni berpidato yang muluk-muluk atau boinbastis. Pengertian ini tentu dalam suatu rumusan pragmatik dan belum sepenuhnya mencakup pengertian dasar yang berkembang di khasanah retorika Indonesia. Seringkali pengertian retorika tidak bisa terlepaskan dari penegertian persuasif dan biasa dianggap sama saja dengan gaya bahasa. Oleh karna itu dalam kajian ini diperlukan pemaparan tentang pengertian dasar retorika, terutama dalam keterkaitannya dengan aktifitas berbahasa.
Begitu banyak Cabang ilmu yang menggarap kegiatan bertutur dan berbahasa, ada beberapa diantaranya yang dekat sekali gejalanya dengan retorik. Cabang ilmu adalah logika, tata bahasa dan sastra (Oka dan Basuki, 19990:53). Wilayah kajian retorika Biasanya dikaburkan dengan problem logika, tatabahasa dan satra. Batas-batas ketiga ilmu tersebut seringkali bersinggungan dengan kajian retorika, bahkan pada unsur yang sama. Misalnya dalam retorika, juga menempatkan analogi (logika), struktur dan makna kalimat (tatabahasa) dan diksi (sastra) sebagai unsur karakteristik retorika. Keterkaitan semacam ini sebagaimana dikatakan oleh Roland Barthes bahwa “rhetoric must always be read in its structural interplay with its neighbors, grammar, logic, poetics and philodopy”  (Parelman, 1982:1). Walaupun demikian keberadaan retorika sebagai ilmu di tandai oleh seperangkat ciri. Perangkat ciri ini bukan hanya berfungsi untuk penanda, melainkan juga untuk pembeda dari ilmu-ilmu yang lain (oka dan Basuki, 19990:41).
Golden, dkk (1983:13) menerangkan bahwa retorika adalah studi tentang bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain untuk membuat pilihan secara bebas. Retorika dipandang sebagai studi yang tertua dan paling sentral dalam berbagai studi kemanusiaan. Brooks dan Warren (1970:6) menjelaskan bahwa retorika adalah seni penggunaan bahasa secara efektif. Oleh sebab itu, pada awalnya retorika memang diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik (kunts, gut zu reden atatu ars bene dicend). Yang dapat dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars tecne) (Hendrikus, 1991:14). Namun sebagai  ilmu, retorika ditandai oleh seperangkat ciri yang merupakan ciri khas keilmuannya. perangkat yang dimaksud meliputi:
  1. Paradigma yang mencakup perspektif teori secara umum dan model berpikir terhadap fenomenanya.
  2. Metode dan instrumen yang dipergunkan.
  3. Jangkauan permasalahannya (khun dalam Andersen, 198;155; Oka dan Basuki, 1990:41-62).
Sebagai ilmu dan model berpikir, maka verifikasi terhadap retorika untuk memenuhi karakteristik keilmuannya meliputi tiga macam pertanyaan:
  1. Apakah retorika itu? Dengan kata lain orang bertanya tentanghakekat retorika atau analogi retorika.
  2. Bagaimana retorika itu? Pertanyaan ini bermaksud memperoleh jawaban bagaimana mempelajari retorika atau menganalisisnya. Secara ilmiah pertanyaan disebut epistemologi retorika.
  3. Untuk apa retorika? Pertanyaab ini mempertanyakan manfaat studi retorika, yakni tentang aksiologi retorika.
Dalam hubungannya retorika dengan ciri empirik, maka retorika sebagai ilmu juga berfungsi untuk menjelaskan berbagaia fenomena kegiatan berbahasa yang dapat diamati (Kerlinger, 1973:7). Dalam hubungannya dengan fungsi ini, Kerlinger (1973:7) menejlaskan bahwa penekanannya pada “the present state of knowledge and adding to it, on the extent of knowledge and on the present set a laws, theories, hypotheses, and principles”. Penekanan semacam ini oleh Sax (1979:12) disebut theory construction. Adapun Kerlinger (1973:8) menyebutkan sebagai “The basic aim of science is theory”.Dalam penelitian ilmiah dapat di jelaskan bahwa “A theory is set of principles, defenition, postulates and fact organized so as to explain the interrelationship among variable” (Sax, 1979:12) hakikat suatu teori  ternyata pada bagaimana primsip, defenisi, postulat, dan fakta yang teroganisasi mampu menjelakan hubungan antar variabel. Pertanyyan lebih lanjut adalah apakah retorika hanyalah sekedar fakta yang teroginisir ataukah fenomena yang mampu menjelaskan nantar hubungan variabel yang da di dalamnya? Dengan demikian jika retorika merupakan sutau ilmu dan tujuan utama setiap ilmu menyusun suatu teri mak, kajian retorika harus mampu menghasilan seuatu teri. Secara lebi mendasar Kerlinger (1973:9) merumuskan bahwa “A theory is set interrelated construct (concept). Defenition and proposition that present a systematic vie of phenomena by specifing realtion among variable, with the puspose an dof explaning ang prdecting the phenomena”.
Berdasarkan pengertian tentang teori tersebut, maka terdapat tiga pemikiran (Kerlinger, 1973:9) yang dapat diterpakan terhadap retorika. Perkembangan konsep retorika nampaknya tidak bisa terlepas dari konsepsi retorika ilmu, sebagai salah satu kebenaran ilmiah yang dapat diuji dan dibuktikan. Dan berbagai prinsip yang ada dalam retorika. Pertama, dapat dikatakan bahwa retorika adalah disiplin kemanusiaan yng didasarkan pada pilihan dan terutama  didesain untuk mempengaruhi orang lain. Kedua, reorika adalah proses yang dinamis, yang berkembang dan terikat oleh budaya dengan berbagai disiplin secara ilmiah (Golden dkk, 1983:4). Sebagai ilmu yang tumbuh dan berkembang, “ilmu retorika mempunyai hubungan yang erat dengan dialektika yang sudah dikemabngkan sejak zaman Yunani kuno” (Hendrikus, 1991:15).
Dalam kaitannya dengan konsep retorika sebagai ilmu, maka akumulasi berbagai prinsip yang berkembang perlu dipetengahkan. Pengertian retorika dewasa ini telah mencakup semua pengertian yang pernah ada sebagai berikut:
  1. “Prinsip-prinsip mengenai komposisi pidato yang persuasif dan efektif , maupun keterampilan yang harus dimiliki seorang orator (ahli pidato).
  2. Prinsip-prinsip mengenai mengenai prosa pada umumnya, baik yang dimaksudkan untuk penyajian lisan maupun untuk penyajian tertulis, entah yang bersifat fiktif atau yang bersifat ilmiah.
  3. Kumpulan ajaran teoritis mengenai seni komposisi verbal, baik prosa maupun puisi, beserta upaya-upaya yang digunakan dalam kedua jenis komposisi verbal tersebut”.
Perkembangan retorika sebagai ilmu pada dasarnya telah mencakup semua prinsip: ontologi, epistemologi danaksiologi. Sebagai lapangan kajian yang dinamis, berbagai prinsip yang ada dalam retorika mungkin akan bergeser sesuai dengan kecenderungan secara ilmiah. Perkembangan bisa mengarah kepada perubahan objek, paradigma, metodologi, dan tujuannya.

Retorika dan Ilmu Bahasa
Sebelum sampai pada era retorika modern, pernah muncul suatu anggapan dan mitos bahwa “rhetoric, it is argued, deal with ornamental language rather than with substantive ideas” (Golden, dkk, 1983:2). Anggapan semacam ini begitu diyakini abad pertengahan di Jerman sebagaimana dikemukakan oleh Erost Robert Curtius bahwa retorika diasosiasikan dengan bahasa yang berbunga-bunga, cita rasa verbal dan ungkapan yang bombastis saja (Golden, dkk, 1983:2; Syafie, 1988:3). Dalam sejarah perkembangan studi tutr dan bahasa pernah muncul suatu anggapan bahwa retorika adalah bagian dari tatabahasa (Oka dan Basuki, 1990:65). Di Indonesia gejala seperti ini tumbuh dan berkembang sehingga menimbulkan kesimpangsiuran, apakah retorika merupakan cabang ilmu tersendiri yang objek alamiahnya bahasa ataukah merupakan cabang ilmu bahasa? Kemudian bagaimanakah kaitannya dengan ilmu bahasa?
umumnya orang beranggapan bahwa “retorika merupakan istilah yang secara tradisional diberikan pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu penegtahuan yang tersusun baik (Keraf, 1983:1). Berkembangnya anggapan semacam ini menuntut perlunya perbedaan yang tegas antara retorika dengan ilmu bahasa atau tatabahasa. Kalau mau berbicara benar, retorika bukanlah bagian dari tatabahasa dan juga bukan alat dan tatabahasa (oka, 1976:74; Oka dan Basuki, 1990:66). Sebagai ilmu, keduanya secara prinsip bereda, baik materi kajian merupakan kaidahnya. Meskipun demikian karena keduanya berurusan dengan bahasa, maka batas kajiannya sering kali dikacaukan, sebagaimana pengertian retorika pada umumnya, maka terdapat “dua aspek yang perlu diketahui seseorang dalam retorika, yaitu pengetahuan mengenai objek tertentu yang akan disampaikan dengan bahasa tadi” (Keraf, 1985:1). Oleh sebab itu, “retorika selalu menganjurkan penutur untuk memilih materi bahasa yang tepat, menatanya menjadi kalimat-kalimat yang retorika dan menampilkannya dengan gaya tutur yang meyakinkan” (Oka, 1976:75).
Adapun ilmu bahasa atau yang disebut dengan istilah lingiustik, sebagaimana dikemukakan oleh Lado bahwa “Linguistics is the science that describe and classifies languages”. Dalam pengertian ini dapat dijelaskan bahwa “Linguistic description are divided into phonology for the sound, morphology for the patterns and part of word, and syntax for pattern of phrases and sentence” (Lado, 1964:19). Meskipun demikian “Lingistik mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu-ilmu lain yang kadang-kadang meminjam data dan memasok data” (Saussure, 1988:70-71) oleh sebab itu, batas-batas yang memisahkan linguistik dari ilmu lai inu, misalnya terjadi pada kajian linguistik dengan sastra atau dengan retorika, Robins (1992:5;4) menjelaskan bahwa “sebagai kajian ilmiah tentang bahasa, linguistik harus mencakup semua aspek dan pemakaian bahasa dan semua gaya”. Meskipun demikian apa yang dikerjakan oleh para linguis adalah mengobservasi ujaran, mendeskripsi, mengkalsifikasikan dan menyajikan strukturnya secara lengkap, akurat dan seekonomis mungkin. Sebagaimana para ilmuwan yang lain, Lado (1964:19) menjelaskan bahwa “”linguists have evoleved their own scienticic procedures and technical terminology”. Oleh sebab itu, perbedaan linguistik dengan ilmu-ilmu yang lain termasuk dengan retorika terletak pada prosedur dan terminologi analisis, serta pada detail deskripsi sebagai unsur bahasanya.
Retorika sebagai ilmu yang bertujuan untuk mempersuasi pendengar atau pembaca tentu tidak berurusan secara berkecil-kecil dengan berbagai unsur yang dikaji dalam fonologi dan morfologi atau sintaksis dalam kaitannya dengan kaidah yang telah diberlakukan. Retorika akan berurusan dengan semua unsur bahasa dalam fungsinya sebagai unsur wacana. Perelman 91982:41) menjelaskan bahwa dalam sebuah wacana, semua unsur yang dirasakan oelh pembicara hanya dapat dijelaskan melalui bahasa yang harus dimengerti oleh pendengar/pembacanya. Kemudian jika kata-kata tidak bisa diandalkan untuk memahami pesan secara keseluruhan, maka kita harus melihat di luar kata-kata itu yakni dalam frasa, dalam konteks verbal atau nonverbal, pada apa yang dapat kita ketahui dari pembicara dan pendengarnya (Perelman, 1982:44). Cara kerja semacam ini hanya dilakukan dalam kajian retorika dan tidak dilakukan dalam tatabahasa, unsur bahasa yang menajdi memang bisa saja sama, tetapi substansi dan terminologi teknis juga prosedurnya berbeda.


0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut